banner 728x250
Daerah  

Bupati Sidoarjo H. Subandi Panaskan Suasana Politik: Sindiran Tajam Soal Ambisi Kursi Bupati

Pernyataan kontroversial kembali dilontarkan oleh Bupati Sidoarjo, H. Subandi, yang secara terbuka membantah isu penggeledahan oleh aparat penegak hukum. Namun bukan hanya bantahan yang menarik perhatian publik—melainkan sindiran tajam yang ia lontarkan terhadap pihak-pihak yang disebut “ngempet pengen jadi bupati lagi.”

Dalam sebuah forum publik, Subandi menyebut bahwa ada oknum yang sengaja memanaskan suasana dengan menyebar isu penggeledahan, yang menurutnya tidak pernah terjadi. Ia menyebut manuver tersebut sebagai bentuk ambisi politik yang tidak sehat dan penuh intrik.

“Saya tahu siapa yang bermain. Ada yang ngempet pengen jadi bupati lagi. Tapi jangan pakai cara-cara kotor,” tegas Subandi, dengan nada yang menyiratkan ketegangan politik internal.

Pernyataan ini sontak memicu spekulasi publik, terutama karena hubungan antara Subandi dan Wakil Bupati Sidoarjo, H. Muhammad, belakangan disebut-sebut merenggang. Meski tidak menyebut nama secara langsung, arah sindiran Subandi dinilai mengarah pada lingkaran elite politik yang pernah menduduki jabatan strategis di pemerintahan daerah.

Subandi juga menantang siapa pun yang menyebarkan isu penggeledahan untuk menunjukkan bukti. Ia menegaskan bahwa tidak ada penggeledahan di rumah dinas maupun kantor bupati, dan menyebut kabar tersebut sebagai fitnah politik.

“Kalau memang ada penggeledahan, mana buktinya? Jangan main isu murahan,” ujarnya.

Pernyataan ini memperkeruh suhu politik menjelang tahun pemilu, di mana perebutan pengaruh dan dukungan mulai terasa di tingkat lokal. Pengamat politik menilai bahwa pernyataan Subandi bukan sekadar klarifikasi, melainkan sinyal bahwa konflik internal di pemerintahan Sidoarjo semakin terbuka.

Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Wakil Bupati maupun tokoh-tokoh yang diduga menjadi sasaran sindiran. Namun publik menunggu apakah ketegangan ini akan berujung pada konfrontasi politik terbuka atau justru menjadi pemicu rekonsiliasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *