Badung – Di balik hiruk-pikuk pariwisata Canggu yang tak pernah benar-benar tidur, tersimpan sebuah kisah yang berjalan dalam diam. Sebuah peristiwa kematian seorang warga negara asing wanita pada tahun 2025 di salah satu kamar Hotel Rimbun Pipitan—peristiwa yang nyaris tak pernah menyentuh ruang publik.
Di Bali, kabar tentang wisatawan asing hampir selalu bergerak cepat. Terlebih jika menyangkut insiden atau kematian. Namun dalam kasus ini, cerita itu seperti terperangkap di balik dinding kamar: ada, tetapi seolah tak pernah benar-benar keluar ke permukaan.
Dari informasi yang dihimpun awak media, peristiwa tersebut pertama kali diketahui saat waktu check-out tiba. Pihak hotel mencoba memanggil tamu perempuan yang menginap di kamar tersebut, tetapi tak ada jawaban dari dalam.
Ketika pintu akhirnya dibuka, perempuan itu ditemukan telah meninggal dunia.
Seorang staf hotel yang ditemui awak media menyebutkan bahwa dari cerita yang ia dengar, kondisi korban saat ditemukan menimbulkan dugaan awal yang mengarah pada bunuh diri.
“Lehernya seperti terjerat kain atau handuk,” ujar staf tersebut, mengulang cerita yang beredar di antara karyawan hotel.
Namun cerita itu berhenti di sana. Tidak ada penjelasan resmi yang pernah dipublikasikan secara terbuka mengenai bagaimana penyelidikan dilakukan, atau apa kesimpulan akhir dari peristiwa tersebut.
Awak media kemudian mencoba mengonfirmasi kejadian itu kepada pihak kepolisian. Seorang anggota dari Polsek Kuta Utara membenarkan bahwa peristiwa kematian WNA di hotel tersebut memang pernah terjadi pada tahun 2025.
Meski demikian, ia tidak menjelaskan lebih jauh mengenai kronologi maupun hasil penanganan kasus tersebut.
“Memang ada kejadian itu. Untuk informasi lengkap silakan konfirmasi ke Polres Badung,” ujarnya singkat.
Jawaban singkat itu justru menambah ruang tanya di tengah masyarakat. Beberapa warga di kawasan Canggu mengaku baru mengetahui cerita tersebut setelah beredar kembali dari penelusuran awak media.
“Biasanya kalau ada turis meninggal, pasti cepat sekali tersebar. Tapi yang ini seperti tidak pernah terdengar,” ujar seorang warga setempat.
Penelusuran di lapangan juga menemukan sejumlah informasi lain yang berkembang di masyarakat. Disebutkan bahwa hotel tempat peristiwa itu terjadi berdiri di atas lahan yang berkaitan dengan pelaba pura dalem setempat.
Sementara dari informasi yang dihimpun, pengelola hotel tersebut diketahui bernama Jro Mangku Sudiana. Sumber lain juga menyebutkan bahwa anak dari pengelola hotel tersebut merupakan seorang anggota legislatif di Kabupaten Badung, yakni I Made Suryananda Pramana.
Berbagai informasi tersebut membuat sebagian masyarakat berharap agar peristiwa ini dapat dijelaskan secara terbuka oleh pihak yang berwenang. Transparansi dinilai penting agar tidak muncul berbagai spekulasi yang justru dapat menimbulkan kesalahpahaman.
Bagi daerah tujuan wisata internasional seperti Bali, setiap kejadian yang melibatkan wisatawan asing selalu memiliki dampak yang lebih luas. Bukan hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi kepercayaan publik terhadap penanganan hukum.
Hingga kini, awak media masih berupaya menelusuri dan mengonfirmasi berbagai pihak terkait, termasuk aparat kepolisian serta pihak pengelola hotel, guna mendapatkan penjelasan resmi mengenai kronologi serta hasil penyelidikan dari peristiwa tersebut.
Sebab hingga hari ini, kematian seorang perempuan asing di sebuah kamar hotel di Canggu itu masih menyisakan satu hal yang belum benar-benar ditemukan: kepastian.
Catatan Redaksi:
Media ini menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah serta membuka ruang hak jawab bagi semua pihak sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik.














